• Rab. Jun 24th, 2026

Jepretnews.com

Berita Terkini Akurat Dan Berimbang

Jalan Ring Road Baru ‘Bunuh’ Rezeki! Omzet Pengrajin Parang Tebat Monok Anjlok Lebih dari Setengahnya

Byadmin_jepretnews

Okt 2, 2025

Kepahiang, Jepretnews.com – Para pengrajin dan penjual parang di Desa Tebat Monok, Kecamatan Kepahiang, kini mulai merasakan kecemasan mendalam.

Pendapatan mereka sebagai tulang punggung ekonomi keluarga mendadak merosot tajam. Perubahan drastis ini muncul sejak akses jalan ring road yang menghubungkan Desa Pelangkian dan Tebat Monok telah sepenuhnya bisa dilalui kendaraan.

Salah seorang pengrajin parang yang terkenal di desa tersebut, Joni, dengan nada prihatin menceritakan dampak langsung dari pengoperasian jalan baru ini. Pada Kamis (2/10/2025) Sore sekira pukul 14.27 Wib.

Ia menegaskan, sebelum jalan alternatif dibuka, penghasilannya terbilang stabil dan sangat menjanjikan. Secara terperinci, Joni menuturkan bahwa omzet harian usahanya dahulu bisa menyentuh angka fantastis, rata-rata mencapai Rp500.000 per hari. Angka ini jelas memperlihatkan betapa strategisnya lokasi mereka di jalur utama.

Akan tetapi, pemandangan itu kini berubah 180 derajat. Seketika arus kendaraan beralih ke ring road, Joni merasakan penurunan pendapatan yang sangat signifikan. Saat ini, ia hanya mampu mengantongi sekitar Rp200.000 per hari.

Jelas sekali, penurunan drastis lebih dari separuh omzet ini memberikan pukulan telak bagi kelangsungan usaha kerajinan parang mereka. Bahkan, keadaan ini memaksa para pengrajin memutar otak lebih keras demi menjaga dapur tetap mengepul.

Joni secara gamblang memaparkan korelasi langsung antara kondisi jalan yang semakin sepi dengan minimnya jumlah pembeli parang. Ia menjelaskan bahwa pembeli parang mereka selama ini didominasi oleh warga luar kota Kepahiang, bukan penduduk lokal.

“Pembeli bukan penduduk Kepahiang, banyak pembeli dari luar kota. Kini mobil yang melintas manyoritas berpelat BD semua, jarang mobil berpelat luar kota yang melintas.” Kata Joni sembari memperhatikan kendaraan yang melintas.

Para pembeli dari luar daerah ini merupakan pengguna jalan utama yang sengaja singgah karena melihat kerajinan parang yang terpajang di sepanjang jalan. Akibatnya, pembukaan jalur ring road membuat mereka kehilangan pasar utama.

Ia mengamati betul pergerakan kendaraan yang melintas di depan lapaknya. Joni menuturkan, kini mayoritas mobil yang terlihat melaju hanyalah yang berpelat nomor BD—kode kendaraan untuk wilayah Bengkulu.

Padahal, mobil berpelat luar kota yang dulu sering mampir dan berbelanja, sekarang sangat jarang terlihat. Pergeseran lalu lintas ke jalur ring road telah membuat jalan di Desa Tebat Monok terasa semakin lengang, otomatis menghilangkan peluang interaksi dengan konsumen potensial dari luar daerah.

Menghadapi kenyataan pahit ini, Joni dan pengrajin lainnya harus berpikir keras mencari strategi baru agar usaha mereka tetap bertahan. Tentu saja, jalur distribusi tradisional yang selama ini mereka andalkan kini bisa terputus oleh jalan baru.

Oleh karena itu, mereka harus segera menemukan cara kreatif untuk kembali menarik perhatian konsumen dan meningkatkan penjualan.

Jika tidak ada solusi segera, kerajinan parang khas Tebat Monok terancam kehilangan pasar yang telah mereka bangun bertahun-tahun lamanya.

 

Ikuti terus perkembangan berita ini di grup Facebook Jepretnews untuk informasi terkini.