Kepahiang, Jepretnews.com – Seorang pria lanjut usia di Desa Pungguk Meranti, Kepahiang, hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur selama bertahun-tahun.
Lukmanudin (63), nama kakek itu, menderita kelumpuhan yang menggerogoti kesehatannya. Kondisi memprihatinkan ini sudah dialaminya sejak lebih dari satu dekade.
Keluarga Kakek Lukman kini harus berjuang sendiri demi kesembuhannya, sambil terus menyampaikan harapan agar Pemerintah Daerah segera memberikan perhatian.
Sebelas Tahun Didera Stroke. Beban Hidup yang Tak Terbayangkan.
Pihak keluarga menjelaskan bahwa Kakek Lukmanudin sudah menderita penyakit stroke/lumpuh selama kurang lebih sebelas tahun. Tentu saja, penyakit jangka panjang ini memukul keras kondisi ekonomi mereka, apalagi Lukmanudin dan istrinya termasuk dalam golongan keluarga kurang mampu.
Suharyani (62), sang istri setia, rela membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup. Ia bekerja serabutan, sering kali mengambil upahan untuk membantu bertani, sementara ia harus merawat suaminya di rumah.
Selama ini, pasangan paruh baya tersebut mengandalkan biaya patungan dari anak-anak mereka dan bantuan kemanusiaan dari warga sekitar untuk membiayai kontrol dan pengobatan Lukmanudin.
Mirisnya, hingga kini, mereka merasa luput dari perhatian pemerintah, baik desa maupun daerah. Belum pernah sekalipun mereka mencicipi uluran bantuan atau perhatian atas kondisi yang diderita Kakek Lukman.
“Sudah berjalan 11 tahun Suami saya menderita sakit stroke/lumpuh dan selama itu pula belum ada sekalipun bantuan dari pihak pemerintah,” jelas Suharyani pilu Sembari, menegaskan betapa beratnya perjuangan mereka. Dikutip dari Wartaprima.com.
Kursi Roda Impian yang Kandas oleh Kebutuhan.
Kepada tim pewarta, Suharyani menyampaikan permohonan tulus agar Pemerintah Daerah segera memberikan perhatian. Ia berharap bantuan itu bisa sedikit banyak meringankan upaya penyembuhan sang suami.
Karena suaminya hanya bisa berbaring di tempat tidur, Suharyani pernah mencoba menabung untuk membelikan kursi roda. Ia ingin sekali suaminya dapat melihat suasana di luar rumah.
Namun, keterbatasan dan kondisi kebutuhan ekonomi yang mendesak membuat impian itu kandas. Uang tabungan itu terpakai lagi untuk kebutuhan sehari-hari.
Sambil meneteskan air mata, Suharyani mengakhiri ceritanya dengan sebuah doa. “Pernah menabung uang untuk membeli kursi roda, agar bisa suami melihat suasana diluar namun karena kebutuhan ekonomi akhirnya uang tersebut terpakai lagi, ya semoga la pihak pemerintah dapat membantu saya dan suami sedikit banyaknya untuk meringankan,” tutupnya.
Kisah ini mencerminkan sebuah kenyataan pahit yang menuntut respon segera dari pihak berwenang.
Ikuti grup Facebook Jepretnews untuk informasi terkini.
