Jepretnews.com – Jagat media sosial kembali memanas. Kali ini bukan soal sensasi biasa, melainkan pernyataan tajam yang langsung menyentil realita banyak orang. Sebuah video dari seorang pengusaha kopi asal Kepahiang mendadak viral, memicu perdebatan panas dan reaksi berantai dari warganet.
Tanpa basa-basi, sosok bernama Dyar langsung menghantam satu isu sensitif yang selama ini sering dihindari, mental bergantung pada harta orang tua dan mertua. Ucapannya lugas, nadanya tegas, dan pesannya sulit diabaikan.
Sejak detik awal, video tersebut sudah terasa “menampar”. Dyar tidak berputar-putar. Ia langsung mengunci perhatian publik dengan dua hal mendasar yang menurutnya menjadi fondasi hidup seseorang.
“Ada dua hal yang bisa kita ambil hikmahnya, yang pertama kita harus belajar tentang keimanan, yang kedua harus memiliki skil,” ujarnya dalam video yang diunggah pada Senin malam, 13 April 2026.
Harga Emas Melejit Lagi! Selisih Buyback Bikin Kaget, Investor Harus Waspada Hari Ini
Pernyataan itu sontak menyebar luas. Banyak yang merasa tersentil. Di sisi lain, tak sedikit yang justru menganggapnya sebagai pengingat keras yang selama ini dibutuhkan.
Tak berhenti pada konsep dasar, Dyar kemudian memperdalam kritiknya. Ia menyoroti fenomena yang menurutnya kerap terjadi: seseorang merasa aman hanya karena latar belakang keluarga.
Tak Bisa Lagi Ditutup! Bupati Kepahiang Tegas, Jabatan Kapus Terancam Dicopot
Namun, ia justru menegaskan hal sebaliknya. “Seberapa kaya orang tua kita kalau kita tidak memiliki skil, harta tersebut akan habis dan sirna dihabisi oleh diri kita. Jika seandainya tidak memiliki skil maka harta mertua kita akan habis dan sirna di tangan kita,” tegasnya.
Kalimat ini menjadi titik ledak. Reaksi publik langsung bermunculan. Sebagian mengaku “kena banget”, sementara yang lain menilai pernyataan tersebut terlalu pedas meski tidak sepenuhnya salah.
Hujan Deras Bukan Alasan Celaka! Ini Tips Berkendara “Auto Selamat” yang Sering Diabaikan
Dalam lanjutan videonya, Dyar kembali menekankan satu hal yang ia anggap tidak bisa ditawar, keterampilan adalah benteng utama kemandirian. Menurutnya, seseorang yang memiliki kemampuan tidak akan mudah bergantung pada siapa pun, termasuk keluarga sendiri.
“Dengan skil yang baik kalian tidak akan makan siapapun termasuk makan mertua kalian dan kalian tidak bisa diukur siapapun karena kalian memiliki skil,” katanya.
Pernyataan ini memperkuat benang merah dari seluruh pesannya, hidup tidak bisa hanya ditopang warisan, tetapi harus dibangun dengan kemampuan.
Menutup videonya, Dyar menggeser perspektif yang lebih dalam. Ia tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan sudut pandang baru tentang hubungan keluarga.
“Jadikan orang tua, mertua kita itu adalah guru bagi kita, seorang mentor terbaik bagi kita,” pungkasnya.
Pesan ini menjadi penyeimbang. Bahwa keluarga bukan tempat bergantung tanpa batas, melainkan ruang belajar untuk tumbuh.
Seiring video terus menyebar, kolom komentar pun dipenuhi beragam respons. Ada yang mendukung penuh, ada pula yang merasa sindiran tersebut terlalu keras. Salah satu komentar datang dari Yozar Farola yang menyatakan setuju dengan isi pesan tersebut.
“Mantap, benar nian tu pak haji 1. keimanan yg kuat 2. skill yg mumpuni,” tulisnya.
Fenomena ini menunjukkan satu hal, isu mental bergantung bukan sekadar opini, tapi realita yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
Di tengah derasnya arus konten hiburan, kemunculan video ini menjadi berbeda. Ia bukan hanya viral, tetapi juga memicu refleksi.
Pesan tentang keimanan dan keterampilan kembali ditegaskan sebagai fondasi utama menghadapi kehidupan yang semakin kompetitif.
Kini, perdebatan mungkin akan terus berlangsung. Namun satu hal tak bisa disangkal, pernyataan Dyar telah membuka ruang diskusi yang selama ini jarang disentuh secara terbuka.
Jepretnews.com akan terus mengabarkan setiap perkembangan terbaru secara berimbang dan berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
