Jepretnews.com – Tragedi sengatan kabel listrik yang menimpa Anggi (21), warga Desa Talang Sawah, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, belum benar-benar usai.
Lebih dari satu tahun sejak insiden itu terjadi pada Rabu, 12 Maret 2025, kondisi Anggi justru masih memprihatinkan.
Luka bakar di bagian kakinya belum juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan, membuatnya kehilangan kemampuan untuk bekerja dan menjalani hidup normal.
Peristiwa ini bermula saat Anggi melintas di jalan raya Desa Babatan dengan sepeda motor. Namun, situasi berubah drastis ketika sebuah kabel listrik yang miring ke badan jalan diduga akibat pergeseran tanah tiba-tiba mengenai dirinya.
Tanpa peringatan, aliran listrik langsung menyengat tubuhnya dan menghantam kaki kanan, menyebabkan luka serius yang berdampak panjang.
Kejadian tersebut berlangsung cepat, tetapi dampaknya terus terasa hingga kini. Kabel listrik yang seharusnya aman justru menjadi ancaman bagi pengguna jalan.
Dalam hitungan detik, Anggi harus menanggung luka bakar parah akibat sengatan listrik.
Meski insiden ini sudah berlalu cukup lama, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa proses pemulihan Anggi berjalan lambat.
Ia masih harus bergantung pada bantuan orang lain untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Pemerintah Desa Talang Sawah tidak tinggal diam. Penjabat Kepala Desa, Suardi, S.IP, menegaskan bahwa pihak desa terus berupaya membantu dan mencari solusi terbaik bagi korban.
Upaya ini dilakukan agar Anggi bisa segera pulih dan kembali menjalani kehidupan seperti semula.
Perangkat desa, Ario Nasution, juga menjelaskan bahwa pihak terkait telah mengambil tanggung jawab atas kejadian tersebut.
“Pada saat itu pihak PLN bertanggung jawab terhadap korban, hingga ada kesepakatan damai antara korban Anggi dan pihak PLN bahkan memberikan beberapa santunan, salah satunya kursi roda,” ungkapnya.
Namun, bantuan yang telah diberikan belum mampu mengubah kondisi secara signifikan. Anggi hingga kini tidak dapat bekerja akibat luka yang belum sembuh. Kondisi ini memaksa sang istri untuk menjadi tulang punggung keluarga.
Saat tim media Jepretnews.com pada Kamis 16 April 2026 bersama perangkat desa mengunjungi kediamannya, Anggi terlihat tinggal di sebuah pondok kecil bersama istri dan seorang anaknya. Kehidupan mereka jauh dari kata layak.
Ario Nasution menyampaikan keprihatinan mendalam. “Terkait adek kita Anggi ini sangat miris melihatnya karena dia tidak bisa mencari nafkah saat ini istri dia yang mencari nafkah. Kita berharap selain Pemerintah ada dermawan dapat membantu saudara kita ini,” tutup Tion.
Aryo menambahkan bahwa istri Anggi bekerja sebagai buruh harian lepas. Penghasilannya tidak tetap karena bergantung pada warga yang membutuhkan tenaga “upahan”.
Di sisi lain, Suardi menyampaikan apresiasi terhadap berbagai pihak yang telah membantu.
“Kita sangat berterima kasih kepada pihak PLN telah membantu serta bertanggung jawab, dan kita juga mengapresiasi atas bantuan Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang telah menyerahkan bantuan beras, obat-obatan juga menyerahkan satu tongkat untuk warga yang mengalami musibah tersebut,” ujar Suardi.
Meski demikian, kondisi Anggi membuktikan bahwa perjuangan belum selesai. Ia masih membutuhkan perhatian serius dan dukungan berkelanjutan.
Kini, di tengah keterbatasan yang membelenggu, Anggi hanya bisa bertahan sambil berharap ada uluran tangan yang lebih luas.
Sementara itu, kisahnya menjadi pengingat keras bahwa keselamatan di ruang publik harus menjadi prioritas, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Jepretnews.com akan terus mengabarkan setiap perkembangan terbaru secara berimbang dan berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
