Jepretnews.com – Kabut asap tebal dan cuaca ekstrem yang menyelimuti Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, memunculkan kekhawatiran baru terhadap kesehatan masyarakat.
Di tengah kondisi udara yang kurang bersahabat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang mengungkap tingginya keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang, Dr. Tajri Fauzan, S.KM., M.Si., memperkirakan peningkatan keluhan ISPA mencapai sekitar 75 persen. Kondisi ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan asap dan debu, terutama ketika cuaca berubah tidak menentu.
Namun, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian, angka 70 hingga 75 persen yang disampaikan Dinkes merujuk pada proporsi keluhan pasien yang datang berobat, bukan otomatis menunjukkan kenaikan jumlah kasus ISPA sebesar persentase yang sama di seluruh Kabupaten Kepahiang.
“Dengan adanya kabut asap ini dapat menyebabkan peningkatan infeksi saluran pernapasan. Kenaikannya kurang lebih diperkirakan sampai 75 persen,” ujar Tajri.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap gangguan pernapasan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Terlebih lagi, keluhan serupa muncul pada pasien dari berbagai kelompok usia.
Tajri mengungkapkan, laporan dari Puskesmas dan klinik di Kabupaten Kepahiang menunjukkan bahwa keluhan ISPA mendominasi pasien yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Berdasarkan laporan dari setiap Puskesmas dan klinik, rata-rata pasien yang datang berobat itu sekitar 70 hingga 75 persen keluhannya adalah ISPA,” tambahnya.
Angka tersebut menempatkan gangguan pernapasan sebagai persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Apalagi, masyarakat masih menghadapi perubahan cuaca yang tidak menentu serta paparan kabut asap di lingkungan sekitar.
Di sisi lain, informasi mengenai jumlah pasien, periode pengamatan, dan perbandingan dengan kondisi sebelumnya tetap penting untuk menjelaskan skala peningkatan tersebut secara lebih akurat.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya memperhatikan kondisi udara, tetapi juga mengenali gejala gangguan pernapasan sejak dini. Langkah ini penting agar warga segera mencari pertolongan medis ketika keluhan semakin berat.
Persoalan berikutnya menyangkut kelompok usia yang mengalami keluhan ISPA. Menurut Tajri, pasien yang datang berobat berasal dari kelompok anak-anak hingga orang dewasa dan lanjut usia.
“Pasiennya beragam dan campur, malahan berimbang (50-50) antara kelompok anak-anak dan kelompok dewasa maupun lansia. Jadi rata-rata warga yang datang berobat saat ini memang didominasi kasus ISPA,” tegasnya.
Keterangan tersebut mengingatkan masyarakat bahwa gangguan pernapasan dapat memengaruhi berbagai kelompok umur. Oleh sebab itu, keluarga perlu meningkatkan perhatian terhadap kondisi kesehatan anak-anak maupun anggota keluarga lanjut usia.
Selain itu, orang tua perlu memantau kondisi anak ketika mengalami batuk, pilek, atau keluhan pernapasan lainnya. Jika anak mengalami sesak napas atau menunjukkan gejala berat, orang tua harus segera membawanya ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa setiap gangguan pernapasan pasti disebabkan oleh kabut asap. Pemeriksaan tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang tepat.
Menghadapi situasi tersebut, Dinkes Kabupaten Kepahiang mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan tubuh. Warga juga perlu membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap menebal.
Selain membatasi paparan asap, masyarakat sebaiknya menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah. Warga juga perlu menghindari sumber asap dan debu serta mengikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi.
Apabila keluhan pernapasan terus berlanjut atau semakin parah, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Terlebih lagi, warga perlu memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dan lansia yang menunjukkan tanda gangguan pernapasan.
Kini, tingginya keluhan ISPA yang dilaporkan Dinkes menjadi pengingat bahwa kondisi udara tidak boleh dianggap sepele. Masyarakat perlu mengambil langkah pencegahan, sementara pemantauan kondisi kesehatan dan kualitas udara menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi tersebut.
Pertanyaannya, seberapa besar dampak kabut asap terhadap kesehatan warga Kepahiang? Data jumlah pasien, periode peningkatan, dan hasil pemantauan kualitas udara akan membantu masyarakat memahami kondisi sebenarnya sekaligus menentukan langkah pencegahan yang tepat.
Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
