• Sen. Okt 19th, 2026

Jepretnews.com

Berita Terkini Akurat Dan Berimbang

Kabut Asap Kepahiang Mengancam Siswa! Dikbud Tunggu Lampu Hijau Dinkes Untuk Sekolah Daring. Pak Tajri, Katanya Masih Aman

Byadmin_jepretnews

Okt 16, 2026

Jepretnews.com – Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan anak-anak sekolah.

Di tengah ancaman gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), muncul pertanyaan penting: apakah kegiatan belajar mengajar perlu beralih ke sistem daring demi melindungi kesehatan siswa?

Hingga kini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Kepahiang belum mengambil keputusan untuk menerapkan pembelajaran online. Dinas tersebut masih menunggu perkembangan kondisi kesehatan dan arahan dari Dinas Kesehatan sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Situasi ini menjadi perhatian orang tua, terutama mereka yang memiliki anak dengan gejala batuk dan pilek di tengah kondisi udara yang dipenuhi kabut asap.

Saat Redaksi Jepretnews.com menghubungi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang, Dr. Nining Fawely Pasju, S.Pt., M.M., melalui sambungan telepon WhatsApp pada Kamis (15/10/2026), ia menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk mengetahui kondisi keamanan lingkungan bagi para siswa.

Berdasarkan hasil konsultasi tersebut, kondisi saat ini masih dinilai aman. Namun, Nining menegaskan bahwa kewenangan untuk menilai tingkat keamanan kondisi kesehatan dan lingkungan bukan berada di tangan Dikbud semata.

“Kami sudah koordinasi. Kan yang menentukan kondisinya itu tidak aman atau aman kan bukan kami,” kata Nining.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Dikbud masih mengacu pada hasil penilaian instansi kesehatan dalam menentukan langkah pendidikan di tengah kabut asap yang menyelimuti wilayah Kepahiang.

Meski demikian, kondisi di lapangan tetap menjadi perhatian. Sebab, anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan membutuhkan perhatian khusus agar aktivitas belajar tidak memperburuk kondisi mereka.

Di tengah kondisi tersebut, Nining mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan anak mengikuti kegiatan belajar di sekolah apabila mereka mengalami gejala gangguan kesehatan.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya telah berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan, termasuk dengan Pak Tajri, terkait kondisi yang berkembang saat ini.

“Kami sudah konsultasi dengan dinas kesehatan, dengan Pak Tajri, katanya masih aman. Tapi bagi anak-anak yang sudah terindikasi batuk pilek memang lebih baik istirahat dulu dan menggunakan masker,” ujarnya.

Imbauan tersebut menjadi perhatian penting bagi orang tua. Terlebih, kabut asap dapat memperburuk iritasi saluran pernapasan, sementara anak-anak membutuhkan perlindungan ekstra ketika kualitas udara memburuk.

Karena itu, orang tua perlu memantau kondisi kesehatan anak sebelum mengizinkan mereka berangkat ke sekolah. Jika anak mengalami batuk, pilek, sesak napas, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, orang tua sebaiknya segera mencari saran tenaga kesehatan.

Terkait kemungkinan penerapan pembelajaran daring, Nining menegaskan bahwa Dikbud masih bergantung pada arahan Dinas Kesehatan. Untuk sementara, pihaknya mengingatkan siswa agar menggunakan masker dan meminta orang tua memperhatikan kondisi kesehatan anak.

“Kami tergantung arah dari dinas kesehatan juga sih, kami hanya mengingatkan saja untuk selalu menggunakan masker. Kalau anak-anaknya kurang, memang aduh tidak sehat, ya biarlahnya di rumah dulu,” pungkas Nining.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa opsi sekolah online belum menjadi keputusan resmi. Pemerintah daerah masih perlu mempertimbangkan perkembangan kondisi udara, hasil pemantauan kesehatan, serta kebutuhan perlindungan bagi para siswa.

Di sisi lain, orang tua tentu berharap pemerintah bergerak cepat apabila kondisi udara semakin memburuk. Sebab, keselamatan siswa harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan keberlanjutan pembelajaran tatap muka.

Kini, perhatian masyarakat tertuju pada perkembangan kabut asap di Kabupaten Kepahiang dan hasil pemantauan kualitas udara dari instansi terkait.

Masyarakat berharap Dinas Kesehatan dan Dikbud terus berkoordinasi serta menyampaikan informasi yang jelas kepada sekolah dan orang tua. Dengan demikian, setiap keputusan dapat mengikuti kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar asumsi.

Hingga ada arahan resmi lebih lanjut, orang tua diimbau untuk memantau kesehatan anak, mengikuti informasi dari pihak sekolah, serta tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan.

Keselamatan siswa tetap menjadi prioritas. Jika hasil pemantauan nantinya menunjukkan kondisi udara tidak aman, pemerintah daerah perlu mengevaluasi kegiatan belajar tatap muka dan mempertimbangkan langkah perlindungan yang sesuai, termasuk pembelajaran daring apabila diperlukan.

Publik kini menanti perkembangan selanjutnya: apakah kondisi kabut asap tetap memungkinkan siswa belajar di sekolah, atau justru membutuhkan kebijakan baru demi melindungi kesehatan generasi muda di Kabupaten Kepahiang?

Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.