• Sel. Agu 18th, 2026

Jepretnews.com

Berita Terkini Akurat Dan Berimbang

HUT RI ke-81 di Kepahiang Gemerlap, Tapi di Daspetah Kakek Tuna Netra Ini Masih Berjuang Melawan Sepinya Perhatian

Byadmin_jepretnews

Agu 18, 2026

Jepretnews.com – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung meriah di berbagai wilayah Kabupaten Kepahiang. Merah Putih menghiasi lingkungan warga, berbagai kegiatan digelar, dan sejumlah agenda pembangunan mulai berjalan.

Namun, di balik kemeriahan itu, sebuah kisah dari Desa Daspetah, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, menghadirkan potret lain tentang arti kemerdekaan. Malyansah (62), lansia penyandang disabilitas netra, menjalani hari-hari dalam keterbatasan.

Ketika masyarakat menikmati suasana perayaan HUT ke-81 RI, ia justru harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup bersama anak dan cucunya. Kisah Malyansah menjadi kontras yang kuat.

Sebab, kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan upacara, perlombaan, maupun kemeriahan Merah Putih. Kemerdekaan juga menyangkut hak masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang layak, terutama bagi warga yang menghadapi keterbatasan.

Malyansah tinggal di sebuah rumah sederhana yang ia tempati sejak 1986. Rumah tersebut menjadi saksi perjalanan panjang kehidupannya hingga memasuki usia senja.

Kini, ia tinggal bersama anak dan cucunya. Sang istri telah meninggal dunia pada 2024.

“Saya tinggal di sini sudah sejak tahun 1986 dan milik saya pribadi, dan sekarang saya tinggal bertiga dengan anak dan cucu. Sementara istri saya sudah meninggal sejak 2024,” ucap Malyansah saat ditemui di kediamannya, Selasa 18 Agustus 2026.

Kondisi ekonomi keluarga itu membuat kebutuhan sehari-hari terasa berat. Saat ditemui, sang anak hanya menyantap nasi dengan sambal seadanya. Selain persoalan ekonomi, keluarga tersebut juga menghadapi masalah kesehatan.

Anak yang tinggal bersama Malyansah kerap mengalami kondisi yang membuatnya tiba-tiba terjatuh. Sementara sang cucu mengalami gangguan pada kaki setelah kecelakaan.

“Iya anak yang tinggal bersama saya ini memang sering tiba-tiba jatuh, kata dokter kena saraf dan cucu kakinya kena kecelakaan jadi kakinya pincang,” jelas Malyansah.

Perjuangan Malyansah semakin berat karena ia mengalami gangguan penglihatan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengaku sudah berusaha mendapatkan pengobatan. Namun, gangguan tersebut terus memburuk hingga akhirnya membuatnya tidak dapat melihat sejak sekitar 2019.

“Kondisi fisik saya saat ini pendengaran masih lancar, tapi yang menjadi kendala bagi saya di penglihatan. Sakit ini mulai saya masih SD dulu, mata saya gatal. Sudah berobat ke mana-mana belum juga sembuh, sekarang tambah parah hingga seperti ini, sudah dari 2019, hingga tidak bisa lagi melihat,” ungkapnya.

Padahal, sebelum kondisi penglihatannya memburuk, Malyansah bekerja sebagai buruh tani. Ia mengandalkan tenaga untuk menghidupi keluarganya. Kini, keterbatasan penglihatan membuatnya tidak mampu kembali bekerja seperti dahulu. Kondisi itu sekaligus mempersempit sumber penghasilan keluarga.

Dalam situasi tersebut, Malyansah mengandalkan bantuan dari salah satu anaknya yang lain. Anak tersebut sesekali memberikan beras dan uang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kebutuhan saya sehari-hari ada anak saya satu lagi sering memberikan bantuan, kadang-kadang diberikan beras dan uang Rp100 ribu per minggu,” terangnya.

Bantuan itu menjadi penopang penting bagi Malyansah. Namun, kebutuhan keluarga tetap berjalan setiap hari, sementara kemampuan untuk mencari penghasilan semakin terbatas.

Malyansah mengaku pernah menerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) atau bantuan sembako pada April hingga Juli 2024. Namun, setelah sang istri meninggal dunia, ia tidak lagi menerima bantuan tersebut.

Selain BPNT, Malyansah pernah memperoleh tongkat sebagai alat bantu berjalan. Ia juga mengaku menerima bantuan tunai Rp900 ribu pada akhir 2025.

“Pernah juga saya mendapat bantuan tongkat dan kalau uang akhir 2025 pernah dapat Rp900 ribu, cuma sekali itulah. Ada beberapa kali bantuan yang juga saya urus tapi belum dapat,” ujarnya.

Ia berharap berbagai pengurusan bantuan yang pernah dilakukan dapat kembali mendapat perhatian sehingga dirinya bersama anak dan cucu bisa memperoleh dukungan yang lebih berkelanjutan.

Malyansah kini menghadapi kehidupan dengan keterbatasan penglihatan, kondisi ekonomi yang sulit, serta tanggung jawab terhadap keluarga. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah maupun masyarakat yang memiliki kemampuan dapat memberikan perhatian kepada keluarganya.

“Kalau ada bantuan memang saya mengharapkan dapat, tapi bantuan apa pun yang”

Kutipan tersebut berhenti di tengah kalimat. Namun, harapan Malyansah sudah tergambar jelas. Ia membutuhkan bantuan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.

Kisah tersebut sekaligus menjadi refleksi di tengah perayaan HUT ke-81 RI di Kabupaten Kepahiang. Ketika berbagai kegiatan berlangsung meriah, masih ada warga yang menjalani hari dengan penuh keterbatasan.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar, panggung yang meriah, atau perlombaan yang memenuhi lapangan. Kemerdekaan juga harus hadir dalam bentuk perhatian kepada warga yang membutuhkan, termasuk lansia penyandang disabilitas seperti Malyansah.

Sebab, ukuran kemerdekaan bukan semata-mata seberapa meriah perayaannya, tetapi seberapa jauh masyarakat yang paling rentan dapat merasakan manfaatnya.

Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.