Kepahiang, Jepretnews.com – Di tengah panasnya bara pemberantasan korupsi yang melanda Kabupaten Kepahiang, sebuah istilah tak lazim tiba-tiba mencuat dan membuat publik bertanya-tanya: “Sowan”.
Kata ini, yang terlontar dari seorang pengelola keuangan negara, sontak memicu gelombang spekulasi liar dan dugaan tak berdasar. Apakah ini sekadar kunjungan biasa, ataukah ada makna tersembunyi yang jauh lebih besar di baliknya?
Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, “Sowan” memang berarti “berkunjung”. Namun, dalam konteks genting seperti saat ini, di mana dugaan aroma suap, gratifikasi bahkan korupsi begitu kuat tercium, kata “berkunjung” ini menimbulkan seribu satu pertanyaan.
Mengapa menggunakan istilah yang tak biasa dan terkesan ‘klise’ ini? Apakah ada agenda tersembunyi di balik kunjungan tersebut? Berbagai asumsi pun bermunculan. Apakah ini hanya upaya penggiringan opini untuk mengalihkan perhatian publik dari isu korupsi yang sedang memanas? Atau justru ada keterlibatan instansi lain dalam pusaran pengelolaan uang negara yang patut dipertanyakan?
Seorang wartawan di lapangan dibuat kebingungan. Istilah “Sowan” yang tiba-tiba muncul ini sudah tidak lagi familiar di telinga, memunculkan dugaan kecurigaan akan adanya sesuatu yang tidak beres.
Publik menuntut jawaban! Transparansi adalah harga mati di tengah upaya pemberantasan korupsi. Keberadaan istilah “Sowan” ini bukan lagi sekadar kosa kata asing, melainkan sebuah sinyal bahaya yang patut diwaspadai.
Akankah misteri di balik “Sowan” ini terungkap? Atau justru akan semakin memperkeruh suasana di tengah perjuangan memberantas korupsi di Kabupaten Kepahiang?
(Penulis Ag).
