Jepretnews.com – Gerbang utama Kantor Bupati Kepahiang bergemuruh oleh sorak sorai antusiasme, menjadi saksi peluncuran gerakan masif pelestarian warisan budaya.
Bupati Kepahiang, H. Zurdi Nata, S.IP, pada Sabtu malam ini (29/11/2025), secara resmi membuka perhelatan akbar “Hompimpah Bengkulu 2025: Revitalisasi Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional.”
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu–Lampung, di bawah naungan Kementerian Kebudayaan RI, menyelenggarakan acara bergengsi ini sebagai langkah strategis untuk melawan arus deras digitalisasi yang mengancam kekayaan lokal.
Acara yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari penuh ini langsung mendapatkan sambutan hangat dari pucuk pimpinan daerah. Bupati Zurdi Nata secara eksplisit menyampaikan rasa syukurnya atas inisiasi BPK Wilayah VII.
“Kita harus melestarikan permainan rakyat dan olahraga tradisional,” tegas beliau. Kemudian, beliau melanjutkan dengan penekanan penting tentang peran agenda ini sebagai benteng vital untuk “mengurangi konsumsi gadget di kalangan anak-anak.” Ujar Bupati. Dikutip dari Diskominfo.
Komitmen ini menegaskan bahwa Kepahiang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental dan pelestarian identitas budaya generasi mudanya.
Pada pembukaan yang meriah ini, sejumlah tokoh penting daerah turut hadir dan memberikan dukungan penuh. Kepala BPK Wilayah VII Bengkulu–Lampung, Iskandar Mulia Siregar, memimpin langsung delegasi BPK, didampingi oleh Wakil Bupati Kepahiang Ir. Abdul Hafizh, M.Si, serta Ketua DPRD Gregory Dayefiandro.
Secara kolektif, mereka duduk bersama Sekda Kepahiang Dr. Hartono, Kadis Dikbud Dr. Nining Fawely Pasju, dan Kadis Kominfo Kushadi Cahyadi.
Selain itu, barisan organisasi wanita daerah mulai dari TP PKK, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), hingga Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Kepahiang turut menunjukkan kehadiran mereka, menandakan bahwa isu pelestarian budaya ini mendapatkan dukungan lintas sektor.
Sementara Bupati menyerukan pentingnya perlindungan anak dari gawai, Iskandar Mulia Siregar, dari pihak penyelenggara, memaparkan visi di balik acara ini.
“Hompimpah Bengkulu 2025 menjadi wujud nyata komitmen bersama,” ujarnya. Dia menerangkan bahwa kegiatan ini menjadi “aksi nyata pemerintah dalam menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali kekayaan budaya” yang tak lain merupakan “identitas dan kebanggaan masyarakat Bengkulu.
“Oleh karena itu, Hompimpah tidak hanya menjadi festival permainan, tetapi juga sebuah pernyataan politik budaya yang kuat.
Setelah sesi seremonial resmi selesai, kemeriahan berpindah ke lapangan. Puncaknya, acara berlanjut dengan atraksi dan perlombaan permainan rakyat yang langsung memicu tawa dan semangat kompetisi.
Para pelajar dari berbagai sekolah di seluruh Kabupaten Kepahiang berpartisipasi aktif, menunjukkan bahwa kecintaan terhadap permainan tradisional masih membara.
Anak-anak secara bergantian mengikuti lomba-lomba yang unik dan menantang. Mereka bersaing ketat dalam lompat kodok yang menguji kecepatan, berlari sambil menjaga kelereng tetap di sendok, dan menunjukkan ketangkasan tubuh dengan hulahoop.
Permainan yang lebih eksotis pun ikut dipertandingkan, seperti catur Teuku Umar, adu keseimbangan di atas engrang, dan ketepatan membidik target pada lomba bidik karet.
Yang paling unik, lomba adu biji durian dan lomba bakiak menyita perhatian penonton, menciptakan suasana nostalgia sekaligus edukatif. Melalui Hompimpah 2025, warisan leluhur berhasil disuntikkan kembali ke nadi generasi muda Kepahiang.
Jangan sampai ketinggalan! Segera ikuti grup Facebook Jepretnews untuk informasi terkini dan kisah-kisah inspiratif lainnya!
