Jepretnews.com – Program revitalisasi sekolah di Kabupaten Kepahiang kembali bertambah. Di tengah waktu pelaksanaan yang terus berjalan menuju penghujung tahun anggaran 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kepahiang mencatat 16 sekolah tambahan masuk dalam program revitalisasi tahap II.
Tambahan tersebut membuat jumlah sekolah penerima revitalisasi di Kabupaten Kepahiang kini mencapai 44 sekolah. Di sisi lain, nilai anggaran untuk tahap kedua masih menunggu kepastian perhitungan dari pemerintah.
Kondisi itu membuat pelaksanaan program revitalisasi sekolah menjadi perhatian, terutama karena seluruh pekerjaan ditargetkan dapat berjalan dan selesai dalam tahun anggaran 2026.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang, Nining Fawely Pasju, menjelaskan bahwa tambahan penerima revitalisasi tersebut bersumber dari anggaran ADT tahap dua.
Dari 16 sekolah yang mendapatkan tambahan program, sebanyak delapan sekolah merupakan Taman Kanak-Kanak (TK), sedangkan delapan lainnya merupakan Sekolah Dasar (SD).
“Ada 16 sekolah lagi sebagai penerima revitalisasi dengan sumber anggaran ADT tahap dua, dimana TK 8 sekolah dan SD 8 sekolah,” ujar Nining.
Dengan tambahan tersebut, jumlah penerima program revitalisasi sekolah di Kabupaten Kepahiang meningkat signifikan. Sebelumnya, program tahap pertama telah mencakup sejumlah sekolah, kemudian pemerintah kembali menambahkan penerima melalui tahap kedua.
Selain jumlah sekolah, besaran anggaran juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program revitalisasi tersebut. Nining menyebutkan, anggaran yang diterima pada tahap pertama mencapai sekitar Rp20 miliar.
Sementara itu, tambahan anggaran untuk tahap kedua diperkirakan berada pada kisaran yang sama.
Namun, pihak Dikbud Kepahiang belum menerima kepastian nominal akhir untuk tambahan tersebut. Pemerintah masih melakukan proses penghitungan sebelum menentukan angka definitif.
“Total anggaran yang sementara kita terima itu ada 20 miliar. Untuk yang tambahan sekitar 20 miliar juga ya, belum, belum kita menerima berapa pastinya,” jelas Nining.
Jika perkiraan tersebut terealisasi, total nilai anggaran untuk program revitalisasi dari kedua tahap berada di kisaran Rp40 miliar. Meski demikian, angka tersebut masih bersifat sementara hingga pemerintah menetapkan nominal resmi.
Waktu pelaksanaan juga menjadi perhatian Dikbud Kepahiang. Pemerintah menargetkan seluruh pekerjaan revitalisasi dapat selesai pada Desember 2026.
Karena itu, pihak Dikbud berkomitmen mendorong sekolah penerima agar mempercepat pelaksanaan pekerjaan tanpa mengabaikan proses dan ketentuan yang berlaku.
Namun, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi apabila pekerjaan menghadapi kendala di lapangan. Salah satunya melalui mekanisme adendum waktu pengerjaan.
“Kita akan berusaha agar bisa selesai di dalam tahun 2026 ini. Hal terburuk kalaupun seandainya tidak bisa kita akan mengajukan adanya adendum waktu pengerjaan,” ujar Nining.
Dengan demikian, target penyelesaian tetap mengarah pada akhir tahun 2026. Sementara itu, kemungkinan perpanjangan waktu baru menjadi opsi apabila pelaksanaan di lapangan tidak memungkinkan selesai sesuai jadwal.
Hal lain yang ditegaskan Dikbud Kepahiang berkaitan dengan mekanisme pengerjaan. Nining menjelaskan bahwa program revitalisasi tersebut tidak menggunakan proses lelang maupun penunjukan langsung kepada pihak ketiga.
Sebaliknya, pemerintah menerapkan sistem swakelola. Dalam mekanisme ini, pihak sekolah menjadi pengelola langsung pelaksanaan pekerjaan revitalisasi.
“Swakelola, yang dilaksanakan dikelola oleh pihak sekolah,” tegasnya.
Dengan bertambahnya 16 penerima baru, perhatian kini tertuju pada bagaimana masing-masing sekolah menjalankan pekerjaan hingga akhir tahun anggaran.
Selain mengejar target waktu, pelaksanaan juga perlu memastikan penggunaan anggaran berjalan sesuai ketentuan dan kebutuhan revitalisasi.
Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
