Kepahiang, Jepretnews.com – Suasana sakral dan magis menyelimuti Desa Mekar Sari, Kecamatan Kabawetan, pada malam Rebo Wekasan yang jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Sapar. Ribuan pasang mata tak berkedip, terhanyut dalam pertunjukan langka yang menampilkan seni budaya adiluhung, wayang kulit semalam suntuk.
Acara ini bukan sekadar hiburan biasa, melainkan wujud rasa syukur mendalam masyarakat atas karunia alam dari Allah SWT, sekaligus upaya mempererat tali silaturahmi antarwarga. Namun, yang membuat malam itu begitu istimewa adalah lakon yang dibawakan oleh Dalang Ki Purwoko yang berjudul “Wahyu Ketentraman”.
Lakon ini berhasil “membius” penonton dengan alur cerita yang sarat makna. “Wahyu Ketentraman” bukan sekadar kisah fiktif, melainkan sebuah metafora pencarian spiritual yang universal. Ki Purwoko mengajak penonton menyelami perjalanan seorang ksatria yang berjuang melewati berbagai rintangan untuk mendapatkan anugerah kedamaian sejati.
Dalam kisahnya, sang ksatria harus menaklukkan godaan, hawa nafsu, dan kekuatan jahat yang mengancam. Pertarungan epik ini menjadi cerminan dari konflik batin yang ada dalam setiap manusia.
Ki Purwoko menekankan bahwa ketenangan batin hanya bisa diraih melalui pengendalian diri, pengorbanan, dan keikhlasan pesan yang sangat relevan dan menyentuh hati para penonton. Sorak sorai, tawa, dan heningnya malam mengiringi setiap adegan yang dimainkan. Penonton dibuat terpaku, seolah ikut merasakan perjuangan sang ksatria.
Di akhir pertunjukan, ketika wahyu itu berhasil didapatkan, suasana haru dan lega terasa di udara. Pertunjukan ini sukses besar, bukan hanya sebagai pementasan seni, tetapi juga sebagai media dakwah dan refleksi diri. Melalui wayang kulit, masyarakat Mekar Sari diingatkan kembali akan nilai-nilai luhur yang telah menjadi pedoman hidup mereka.
Ki Purwoko menutup kisahnya dengan pesan mendalam: bahwa di tengah gempuran dunia yang serba cepat, kedamaian sejati hanya dapat ditemukan dalam hati yang bersih dan jiwa yang ikhlas.
Hadir dalam pegelaran Wayang Kulit Tokoh Masyarakat se-Sengkuang, Wakil Buapati Kepahiang Abdul Hafizh, Edwar Samsi anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Eko Susilo anggota DPRD Kabupaten Kepahiang serta masyarakat Desa Mekar Sari dan sekitarnya.
