Jepretnews.com – Kabupaten Kepahiang, kini tengah menjadi sorotan utama di jagat maya. Bukan karena berita pembangunan terbaru, melainkan karena gemuruh nostalgia yang dipicu oleh selembar foto.
Meskipun roda pembangunan dan modernisasi terus berputar kencang, ingatan kolektif masyarakat Kepahiang tentang masa lalu daerah mereka terbukti tetap abadi.
Kehangatan kenangan tempo dulu ini tidak hanya menghangatkan hati penduduk asli, bahkan, para perantau pun secara intens merasakan getaran rindu yang kuat terhadap kampung halaman mereka.
Secara mengejutkan, sebuah unggahan foto tunggal di media sosial berhasil memicu tsunami nostalgia massal, secara instan membawa ribuan warganet kembali melintasi waktu, tepatnya ke era hampir dua dekade yang lalu. Inilah bukti bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu momen untuk bangkit.
Kisah ini bermula dari unggahan berharga yang dibagikan oleh seorang pengguna Facebook, Julian Siregar. Dengan tangkas, ia menampilkan sepotong kehidupan otentik di Kabupaten Kepahiang pada tahun 2006.
“Pagi hari pasar Kepahiang di tahun 2006 (15 Oktober 2006),” tulis Julian Siregar di beranda pribadinya. Deskripsi rinci ini memperkuat nilai historis foto tersebut, mengubahnya menjadi sebuah artefak digital yang tak ternilai.
Warganet seketika tersengat. Dokumentasi foto lawas ini dengan jelas memperlihatkan deretan mobil angkutan umum yang sibuk dan luasnya kawasan terminal yang menjadi pusat pergerakan ekonomi saat itu.
Lebih dari itu, publik dapat mengamati sebuah lapangan santoso luas yang terbentang gagah di pusat kota sebuah pemandangan yang sekarang telah berganti rupa drastis. Foto ini bukan sekadar gambar usang, foto ini adalah kunci pembuka peti kenangan yang terkunci rapat.
Unggahan Julian Siregar sontak dibanjiri respons emosional. Ribuan komentar membanjiri kolom komentar, di mana warga Kepahiang dan para perantau berlomba-lomba berbagi fragmen memori masa kecil, kisah pertemuan pertama, dan hiruk pikuk transaksi di pasar legendaris itu.
Para netizen secara aktif menyebut nama tempat, toko, dan bahkan orang-orang yang mereka kenali dalam foto tersebut. Namun, di balik kehangatan nostalgia itu, terselip rasa haru.
Salah satu netizen Suci Lestari ikut menuliskan kisahnya di Kepahiang “19 tahun yg lalu itu mungkin pas aku KKN di dusun tertik kecamatan tebat karai Kepahiang.” Tulis Suci mengingatkan memori 19 tahun silam.
Sejak terjadinya peremajaan besar-besaran tata kelola pasar, kisah-kisah indah dan suasana otentik itu seakan benar-benar sirna ditelan bumi, tergantikan oleh wajah kota yang lebih modern. Foto ini kemudian menjadi semacam protes bisu terhadap perubahan yang menghilangkan jejak-jejak masa lalu.
Dampak dari unggahan ini meluas. Foto tersebut secara efektif memicu “perburuan harta karun” visual secara masif.
Netizen kini aktif menelusuri foto lama mereka berharap menemukan dan membagikan dokumentasi Kepahiang di era 90-an atau awal 2000-an.
Mereka berusaha merajut kembali mozaik sejarah kota yang kini telah banyak berubah. Fenomena ini membuktikan bahwa ikatan emosional masyarakat terhadap masa lalu jauh lebih kuat.
Pasar Kepahiang tahun 2006 memang sudah berubah, tetapi unggahan Julian Siregar telah sukses “menghidupkannya kembali” secara meriah di dunia maya. Kita menantikan lebih banyak harta karun visual yang akan terungkap dari peti kenangan kolektif Kepahiang.
(Sumber foto: Julian Siregar)
Ikuti grup Facebook Jepretnews untuk informasi terkini.
