• Rab. Jun 24th, 2026

Jepretnews.com

Berita Terkini Akurat Dan Berimbang

Cengkeh 2025: Emas Hijau dari Sulawesi Tengah yang Siap Mengguncang Pasar Ekspor Dunia

Byadmin_jepretnews

Mei 29, 2025

Jepretnews.com – Menjelang pertengahan 2025, Indonesia kembali menyaksikan kebangkitan komoditas cengkeh yang menjanjikan. Dikutif dari metroselebes.com Di Sulawesi Tengah, khususnya Palu, Donggala, dan sekitarnya, cengkeh menjadi primadona baru di tengah perubahan iklim dan tantangan pasar global. Harga cengkeh yang menguat dan permintaan ekspor tinggi membuka peluang besar bagi petani lokal.

Harga cengkeh kering melonjak signifikan di beberapa daerah. Di Natuna, Kepulauan Riau, harga naik dari Rp87.000 menjadi Rp110.000 per kilogram. Di Borobudur, Jawa Tengah, harga cengkeh kering mencapai Rp100.000 per kilogram, sementara cengkeh basah dihargai Rp25.000/kg.

Kenaikan harga ini menjadi peluang bagi petani yang sebelumnya ragu menanam cengkeh karena fluktuasi pasar.

Cengkeh Indonesia dikenal karena kualitasnya yang tinggi, terutama aroma kuat dan kandungan minyak atsirinya yang khas.

Negara-negara seperti India, Arab Saudi, dan Singapura menjadi pelanggan tetap komoditas ini. Volume ekspor cengkeh dari Indonesia pada kuartal pertama 2025 naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sulawesi Tengah memiliki agroklimat yang mendukung budidaya cengkeh, termasuk suhu ideal, curah hujan moderat, dan struktur tanah vulkanik yang subur.

Petani telah mulai menanam ulang cengkeh di lahan tidur, mengantisipasi lonjakan permintaan ekspor dan harga. Pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan bibit unggul dan pelatihan teknik budidaya berkelanjutan.

Selain biji cengkeh kering, berbagai bagian tanaman ini kini dimanfaatkan untuk produk turunan bernilai tinggi. Minyak atsiri cengkeh dapat mencapai harga Rp400.000–Rp500.000 per liter.

Daun dan ranting yang sebelumnya dianggap limbah kini diolah sebagai bahan baku industri farmasi dan kosmetik.

Perubahan iklim dan harga pasar yang fluktuatif menjadi tantangan bagi petani. Namun, dengan penerapan praktik pertanian berkelanjutan, petani dapat mengurangi risiko dan meningkatkan ketahanan ekonomi.

Pemerintah Indonesia juga telah menempatkan cengkeh dalam program prioritas ekspor non-migas 2025–2030, lengkap dengan dukungan kredit usaha rakyat (KUR) dan skema asuransi tani hortikultura.

Dengan harga yang menjanjikan, permintaan ekspor yang meningkat, dan dukungan iklim serta kebijakan lokal, tahun 2025 adalah momen terbaik untuk mulai menanam cengkeh.

Bagi petani di Sulawesi Tengah, ini bukan sekadar peluang usaha, tapi juga langkah strategis menuju ketahanan ekonomi daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *