• Rab. Jun 24th, 2026

Jepretnews.com

Berita Terkini Akurat Dan Berimbang

Kisah Perjuangan Jemaah Haji di Mina: Tantangan Logistik dan Koordinasi

Byadmin_jepretnews

Jun 8, 2025

Jepretnews.com – Perjalanan menuju Mina selama musim haji tahun ini dipenuhi dengan cerita penuh perjuangan dari para jemaah haji. Rifqi Athallah, seorang jemaah asal Indonesia berusia 25 tahun, membagikan pengalamannya yang penuh tantangan selama proses pergerakan dari Muzdalifah ke Mina, Makkah, Arab Saudi.

Rifqi menggambarkan situasi yang padat dan tidak terkoordinasi, memaksa banyak jemaah berjalan kaki sejauh 4 kilometer sambil membawa barang bawaan berat. “Kami dijemput dari Arafah sekitar pukul setengah satu malam. Sampai di Muzdalifah, kami mengambil batu dan menunggu arahan dari ketua kafilah,” ujarnya. Dilansir dari cnnindonesia.com.

Kondisi di Muzdalifah sudah sangat penuh, dengan antrean menuju bus yang panjang dan tidak teratur. Banyak jemaah yang sudah kelelahan, bahkan ada yang tidur-tidur ayam sejak malam. Beberapa jemaah nekat menerobos pagar, melempar tas keluar pagar, lalu menyusul temannya dengan merangkak di bawahnya.

Rifqi terpaksa menyeret tasnya karena berat dan sudah rusak. “Saya bungkus barang pakai selimut yang saya temukan di jalan, saya seret karena tas jebol. Sampai sobek juga karena tergesek aspal,” ceritanya.

Di jalanan, Rifqi melihat banyak jemaah dari berbagai negara turun ke jalan. “Yang awalnya di dalam bus akhirnya ikut jalan kaki. Dari Afrika, dari negara-negara lain juga banyak yang sudah jalan dari dini hari. Jadi jalanan penuh,” ujarnya.

Meskipun terdapat pos pengisian air gratis yang sangat membantu, fisik jemaah sangat terkuras. Rifqi mengatakan banyak yang terdorong hingga jatuh, bahkan ada yang pakai kursi roda juga terombang-ambing di luar antrean tanpa bantuan.

Sampai di Mina, tantangan belum usai. Rifqi dan rombongannya mendapati tenda-tenda sudah penuh. Beberapa jemaah lansia dan perempuan tidak mendapatkan tenda dan tempat tidur. “Ada yang terpaksa keruntelan, dua kasur dipakai tiga orang. Bahkan tenda perempuan bercampur dengan laki-laki,” jelasnya.

Rifqi menilai pembagian tenda di Mina tidak seefisien di Arafah. “Padahal kami sudah sesuai kloter dan kafilah. Tapi ternyata banyak yang tidak kebagian. Akhirnya banyak yang tidur di luar atau memaksa masuk tenda lain,” ujarnya.

Kondisi itu diperparah oleh distribusi makanan yang terbatas. “Ada yang tidak mendapat jatah makan karena sistem pembagian berdasarkan jumlah di dalam tenda,” tambahnya.

Rifqi mengapresiasi perbaikan dalam hal konsumsi tahun ini. Namun, ia menyoroti kurangnya kepastian transportasi dan akomodasi. “Kalau makanan Alhamdulillah aman. Tapi masalah tenda dan transportasi harus jadi perhatian serius. Harus ada koordinasi yang lebih baik antara pemerintah dan syarikat,” tegasnya.

Kisah Rifqi menggambarkan bagaimana pelaksanaan ibadah haji, khususnya fase Mina, masih membutuhkan perbaikan signifikan dalam hal logistik, pengaturan massa, dan koordinasi antarinstansi. Ia berharap evaluasi menyeluruh dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.

Sebelumnya, anggota Timwas Haji DPR RI Selly Andriany Gantina menyebut kepadatan jemaah haji di Mina disebabkan oleh program tanazul untuk sekitar 37 ribu jemaah dibatalkan oleh Otoritas Arab Saudi. Ia berharap Tim Kesehatan Haji Indonesia untuk siaga dan bekerja maksimal.

Kementerian Agama (Kemenag) menjelaskan penyebab masalah pergerakan jemaah haji dari Muzdalifah ke Mina di Arab Saudi, yang sempat diwarnai keterlambatan proses evakuasi. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief mengatakan penyebab pertama adalah jadwal bus yang tidak konsisten karena ada ribuan bus yang dioperasionalkan dan antrean yang panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *