• Rab. Jun 24th, 2026

Jepretnews.com

Berita Terkini Akurat Dan Berimbang

Kumpul Kebo: Fenomena yang Mengancam Tradisi Pernikahan di Indonesia?

Byadmin_jepretnews

Jun 28, 2025

Jepretnews.com – Fenomena ‘kumpul kebo’ atau tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan semakin marak terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Data menunjukkan bahwa praktik ini paling banyak ditemukan di kawasan Indonesia Timur. Lalu, apa yang menyebabkan fenomena ini dan apa dampaknya terhadap masyarakat?

Menurut peneliti ahli muda dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yulinda Nurul Aini, ada tiga alasan utama mengapa pasangan memilih untuk ‘kumpul kebo’. Pertama, beban finansial yang dirasakan oleh pasangan. Kedua, prosedur perceraian yang terlalu rumit. Ketiga, penerimaan sosial yang masih rendah terhadap praktik ini.

“Hasil analisis saya terhadap data dari Pendataan Keluarga 2021 (PK21) milik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa 0,6 persen penduduk kota Manado, Sulawesi Utara, melakukan kohabitasi,” ungkap Yulinda. Dilansir dari cnbcindonesia.com.

Namun, fenomena ‘kumpul kebo’ ini juga memiliki dampak negatif terhadap masyarakat. Menurut Yulinda, pihak yang paling berdampak secara negatif adalah perempuan dan anak. Dalam konteks ekonomi, tidak ada jaminan keamanan finansial bagi anak dan ibu. Dalam kohabitasi, ayah tidak memiliki kewajiban hukum untuk memberi dukungan finansial berupa nafkah.

Selain itu, ‘kumpul kebo’ juga dapat menurunkan kepuasan hidup dan masalah kesehatan mental. Anak-anak yang lahir dari hubungan kohabitasi juga cenderung mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, kesehatan, dan emosional.

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami fenomena ‘kumpul kebo’ ini dan dampaknya terhadap masyarakat. Selain itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pernikahan dan dampak negatif dari ‘kumpul kebo’.

Dampak Negatif ‘Kumpul Kebo’

– Tidak ada jaminan keamanan finansial bagi anak dan ibu

– Ayah tidak memiliki kewajiban hukum untuk memberi dukungan finansial berupa nafkah

– Menurunkan kepuasan hidup dan masalah kesehatan mental

– Anak-anak yang lahir dari hubungan kohabitasi cenderung mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, kesehatan, dan emosional

Upaya Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

– Penelitian lebih lanjut untuk memahami fenomena ‘kumpul kebo’

– Kampanye kesadaran masyarakat tentang pentingnya pernikahan

– Pendidikan tentang dampak negatif dari ‘kumpul kebo’

– Dukungan bagi pasangan yang ingin menikah dan membangun keluarga yang sehat dan bahagia.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengatasi Fenomena ‘Kumpul Kebo’?

– Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pernikahan

– Membuat peraturan yang lebih ketat tentang kohabitasi

– Meningkatkan dukungan bagi pasangan yang ingin menikah dan membangun keluarga yang sehat dan bahagia

– Membuat program pendidikan tentang dampak negatif dari ‘kumpul kebo’.

Dengan demikian, diharapkan fenomena ‘kumpul kebo’ dapat diatasi dan masyarakat dapat memahami pentingnya pernikahan dan dampak negatif dari ‘kumpul kebo’.