Kepahiang, Jepretnews.com – Seorang petani sederhana dari sudut Desa Tangsi Duren, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang, telah membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus datang dari pekerjaan kantoran.
Wamat, seorang petani hortikultura dan kopi, berhasil mengubah persepsi banyak orang tentang dunia pertanian melalui kisah hidupnya yang inspiratif. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia kini menjadi contoh sukses yang patut ditiru, terutama bagi para pemuda.
Wamat menuturkan kepada pewarta Selasa (9/9/2025) sore, bahwa ia memulai perjalanan sebagai petani dengan keyakinan penuh. Baginya, bertani bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga sebuah jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Alhamdulillah, dengan menjadi petani palawija dan kopi, saya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya dengan rendah hati.
Ia memiliki strategi cerdas dalam mengelola hasil panennya. Menurut Wamat, hasil dari palawija, seperti cabai dan sayuran, digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian, sementara hasil panen kopi dijadikan sebagai tabungan tahunan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pertanian tidak hanya bisa memberikan penghasilan rutin, tetapi juga dapat menjadi investasi jangka panjang.
Kesuksesan Wamat tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Seiring berjalannya waktu, ia bahkan mulai membuka peluang bagi masyarakat di sekitarnya. Banyak warga dari desa lain dan bahkan dari kecamatan tetangga datang memesan bibit cabai yang telah ia semai. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya sukses sebagai diri sendiri, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi lokal.
Lebih dari itu, Wamat juga menjadi figur yang memberdayakan masyarakat. Ia mempraktikkan istilah “petani modern” yang tidak hanya mengolah lahan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Dengan semangat ini, ia berhasil mengubah citra petani dari pekerjaan yang dianggap “rendah” menjadi profesi yang mulia dan penuh potensi.
Salah satu pesan terpenting yang Wamat sampaikan adalah ajakannya kepada generasi muda. Ia mengimbau agar para pemuda tidak pernah merasa gengsi untuk menjadi petani. “Mari kita berlomba-lomba menjadi pak tani,” serunya dengan penuh semangat.
Wamat ingin menepis stigma bahwa bertani adalah profesi kuno atau tidak menjanjikan. Melalui dirinya, ia menunjukkan bahwa menjadi petani modern berarti menjadi inovator, pengusaha, dan pahlawan bagi ketahanan pangan.
Kisah suksesnya di Desa Tangsi Duren menjadi bukti nyata bahwa lahan desa menyimpan potensi besar untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, asalkan digarap dengan tekad, ilmu, dan semangat.
