Jepretnews.com – Potret kemiskinan secara telanjang menusuk jantung Kabupaten Kepahiang. Di tengah hiruk pikuk kota, warga dikejutkan oleh satu pemandangan miris, yakni sebuah rumah yang hanya berdindingkan bambu.
Rumah rapuh itu berdiri mencolok di Kelurahan Pensiunan, Rt 12 Rw 03, seolah memprotes gemerlap pembangunan yang kabarnya telah merata.
Kamera wartawan Jepretnews.com lantas berhasil mengabadikan momen saat Ibu Jaya, sang pemilik rumah, berdialog langsung dengan Kepala Dinas Sosial, H. Helmi Johan, M. Pd. Kamis 23 Oktober 2025.
Pertemuan ini terjadi ketika dinas sosial sedang melakukan pendataan ulang terhadap para penerima bantuan sosial di Kabupaten Kepahiang. Jelas, rumah bambu Ibu Jaya langsung menarik perhatian tim pendataan.
“Tidak apa-apa keadaan-nya, lihat aja sendiri,” ujar Ibu Jaya dengan nada datar, sembari dengan pasrah memperlihatkan kondisi rumahnya yang sangat memprihatinkan.
Pernyataan lugas ini seolah menjadi tamparan keras terhadap anggapan bahwa kemakmuran telah menyentuh setiap sudut kota.
Lebih lanjut, tim di lapangan mengetahui fakta bahwa Ibu Jaya tidak tinggal sendirian. Ia menghabiskan hari tuanya bersama suaminya yang kesehatannya sudah mulai terkikis oleh usia.
Keduanya menghadapi kerasnya hidup dalam rumah berbilik bambu itu. Kehadiran rumah tersebut di sudut kota Kepahiang ini secara nyata memperlihatkan adanya kesenjangan sosial dan ekonomi yang sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Menyikapi temuan ini, Kepala Dinas Sosial H. Helmi Johan, M. Pd., tentunya langsung memegang peran kunci. Proses pendataan ulang yang mereka jalankan menjadi titik terang bagi warga seperti Ibu Jaya.
Sebab, melalui pendataan ini, dinas berupaya keras memastikan bahwa bantuan sosial yang disalurkan benar-benar mencapai sasaran yang paling membutuhkan.
Dengan demikian, kasus Ibu Jaya menjadi momentum berharga untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki mekanisme penyaluran bantuan sosial.
Oleh karena itu, penemuan rumah Ibu Jaya bukan sekadar berita, melainkan sebuah panggilan darurat. Pihak berwenang harus segera mengambil tindakan konkret untuk mengangkat derajat hidup pasangan lansia ini.
Jelaslah, kondisi Ibu Jaya dan suaminya mencerminkan nasib banyak warga lansia kurang beruntung lainnya yang juga berjuang di tengah keterbatasan.
Selain itu, inisiatif dari pihak swasta dan masyarakat juga harus bergerak untuk memberikan uluran tangan, membantu merenovasi rumah mereka menjadi tempat tinggal yang lebih layak.
Maka dari itu, Kepahiang kini menanti respons cepat dan nyata, memastikan kisah pilu di balik dinding bambu tidak terulang lagi.
Ikuti grup Facebook Jepretnews untuk informasi terkini
