Jepretnews.com – Di saat pemerintah mendorong percepatan digitalisasi hingga ke desa, realita di lapangan justru berbicara sebaliknya. Desa Talang Sawah, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, kini menghadapi ironi serius, sistem serba online berjalan, tetapi sinyal justru nyaris tidak ada.
Kondisi ini langsung menempatkan desa dalam posisi sulit. Alih-alih mempercepat pelayanan, keterbatasan jaringan justru membuat aktivitas pemerintahan tersendat. Bahkan, situasi ini mulai memicu kekhawatiran akan terganggunya pelayanan publik secara menyeluruh. Jumat 24 Aoril 2026.
Transformasi digital yang diharapkan menjadi solusi justru berubah menjadi tantangan baru di Desa Talang Sawah. Hingga saat ini, wilayah tersebut masih tergolong blank spot dengan akses jaringan yang sangat terbatas.
Akibatnya, komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah maupun dinas terkait tidak berjalan optimal. Padahal, sistem administrasi saat ini menuntut konektivitas yang stabil dan cepat.
PJ Kepala Desa Talang Sawah, Suardi, secara tegas mengungkapkan kondisi tersebut. “Ada beberapa kendala salah satunya masalah sinyal, kalau secara pemerintahan kami merasa sangat terganggu dalam arti komunikasi, koordinasi baik ke pemerintah daerah maupun ke dinas-dinas terkait,” ujar Suardi.
Pernyataan ini memperjelas bahwa digitalisasi tanpa dukungan infrastruktur hanya akan memperlebar kesenjangan pelayanan antarwilayah.
Meski menghadapi keterbatasan, perangkat desa tetap berupaya menjalankan tugas. Mereka menggunakan layanan internet berbasis voucher sebagai solusi sementara agar tetap bisa terhubung.
Namun, solusi ini jelas jauh dari ideal. Selain tidak stabil, biaya yang dikeluarkan juga menjadi beban tambahan bagi operasional desa.
“Kita beli vocher dalam satu vocher itu enam ribu, selama sembilan jam,” kata Suardi.
Dengan durasi terbatas dan kualitas jaringan yang tidak menentu, pekerjaan administratif yang seharusnya cepat justru menjadi lebih lambat dan tidak efisien.
Melihat kondisi yang terus berlangsung, pemerintah desa berharap adanya langkah nyata dari pemerintah daerah serta penyedia layanan telekomunikasi seperti Telkomsel dan provider lainnya.
Mereka meminta agar persoalan blank spot tidak lagi dianggap sepele. Sebab, tanpa jaringan yang memadai, digitalisasi hanya akan menjadi beban administratif, bukan solusi pelayanan.
Kasus Desa Talang Sawah menjadi gambaran nyata bahwa ketimpangan digital masih terjadi. Di satu sisi, modernisasi sistem terus digenjot. Namun di sisi lain, masih ada wilayah yang bahkan belum menikmati akses jaringan dasar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pelayanan publik di tingkat desa berpotensi semakin tertinggal. Oleh karena itu, pemerataan infrastruktur jaringan menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Desa Talang Sawah sudah menyampaikan kondisi sebenarnya. Kini publik menunggu langkah konkret, apakah persoalan blank spot desa ini segera diatasi, atau justru terus menjadi hambatan di tengah derasnya arus digitalisasi?
Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
