Jepretnews.com – Flores kembali diguncang gempa kuat. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi.
Guncangan kali ini bukan sekadar mengingatkan warga pada ancaman gempa, tetapi juga membuka kembali catatan panjang bencana tektonik besar yang pernah mengguncang Flores dan kawasan Laut Flores.
Gempa terbaru ini berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. BMKG mencatat sumber gempa berada pada kedalaman sekitar 15 kilometer sehingga gempa tersebut tergolong dangkal.
Lebih jauh, gempa ini berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust, sistem sesar aktif yang selama ini menjadi salah satu sumber gempa besar di wilayah Flores.
Kawasan Flores memang berada di lingkungan tektonik yang kompleks. Pergerakan lempeng dan aktivitas sesar aktif membuat wilayah ini memiliki potensi mengalami gempa kuat.
Dikutip dari MetroTVNews.com, Flores memiliki riwayat panjang kegempaan dahsyat. Sumber gempa di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari Flores Back-Arc Thrust, tetapi juga dari aktivitas di dalam Lempeng Australia yang menunjam ke bawah kawasan Laut Flores.
Catatan sejarah bahkan menunjukkan bahwa sejumlah gempa besar pernah meninggalkan dampak serius di Flores dan wilayah sekitarnya.
Gempa Laut Flores 1820 Diperkirakan Mencapai Mw 7,9
Jauh sebelum teknologi seismograf modern berkembang, kawasan Laut Flores sudah pernah mengalami gempa besar. Gempa pada 29 Desember 1820 diperkirakan memiliki kekuatan sekitar Mw 7,9, bahkan sejumlah rekonstruksi menempatkan magnitudonya bisa mencapai Mw 8,3.
Penelitian Jonathan Griffin dan tim yang terbit dalam Bulletin of the Seismological Society of America pada 2019 menggunakan rekonstruksi data historis untuk memperkirakan kekuatan gempa tersebut.
Gempa itu juga memicu tsunami destruktif. Gelombang tsunami menerjang sejumlah wilayah di sekitar Laut Flores. Bulukumba di Sulawesi Selatan mengalami kerusakan parah, sementara tsunami juga mencapai Bima di Sumbawa dan teramati hingga Sumenep, Madura. Dalam Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416–2023, BMKG mencatat sekitar 500 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Gempa Flores 1992 Jadi Salah Satu yang Paling Mematikan
Catatan berikutnya datang dari gempa Flores 1992. Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan sekitar Mw 7,8 mengguncang kawasan Maumere. Gempa tersebut terjadi akibat pergerakan Flores Back-Arc Thrust dan kemudian membangkitkan tsunami besar yang menerjang pesisir utara Flores serta sejumlah pulau di sekitarnya.
Dampaknya sangat besar. Katalog Tsunami Indonesia BMKG mencatat sekitar 2.500 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Di Riangkroko, ketinggian run-up tsunami dilaporkan mencapai sekitar 26 meter. Pulau Babi juga menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah ketika gelombang tsunami menyapu permukiman warga.
Gempa M7,7 2026 Kembali Mengaktifkan Kekhawatiran
Kini, Flores kembali menghadapi gempa besar. Gempa pada 15 Agustus 2026 tercatat memiliki kekuatan M7,7 berdasarkan data pemutakhiran BMKG. Pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer.
BMKG mengidentifikasi mekanisme sumber gempa sebagai pergerakan sesar naik (thrust fault) pada sistem Flores Back-Arc Thrust.
Gempa tersebut juga memicu tsunami. BMKG mendeteksi gelombang di sejumlah wilayah, antara lain Sikka, Kewapante, Flores Timur, Labuan Bajo, Maurole, Dompu, Alor, Baubau, Bulukumba, hingga Kolaka.
Gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter. Saat berita ini disusun, jumlah korban jiwa sementara akibat bencana tersebut dilaporkan mencapai 33 orang.
Laut Flores Kembali Berguncang pada 2021
Empat tahun sebelum gempa terbaru, Laut Flores juga mengalami gempa kuat. Pada 14 Desember 2021, gempa berkekuatan M7,4 mengguncang kawasan tersebut. Namun, gempa ini memiliki karakter berbeda dibandingkan gempa Flores 1992 dan 2026.
Analisis mekanisme sumber BMKG menunjukkan gempa 2021 dipicu oleh aktivitas sesar geser, bukan mekanisme sesar naik pada Flores Back-Arc Thrust.
Gempa tersebut juga membangkitkan tsunami kecil. Katalog Tsunami Indonesia mencatat kenaikan muka air laut sekitar 7 sentimeter di stasiun tide gauge Marapokot dan Reo.
Gempa Dalam 2015 Punya Karakter Berbeda
Sementara itu, pada 27 Februari 2015, Laut Flores mengalami gempa berkekuatan Mw 7,0. USGS mencatat episentrum gempa berada sekitar 150 kilometer timur laut Maumere. Namun, gempa tersebut memiliki karakter yang berbeda dibandingkan gempa 1992 dan 2026.
Hiposentrumnya berada pada kedalaman sekitar 552 kilometer, jauh di dalam mantel bumi. Aktivitas patahan di dalam Lempeng Australia yang menunjam memicu gempa tersebut, bukan pergerakan Flores Back-Arc Thrust di kerak bumi dangkal. Karena sumbernya sangat dalam, dampak gempa 2015 di permukaan relatif lebih terbatas. Gempa tersebut juga tidak memicu tsunami.
Rangkaian sejarah tersebut menunjukkan satu hal penting: Flores dan Laut Flores memiliki dinamika tektonik yang sangat aktif. Gempa 1820, 1992, 2015, 2021, hingga gempa M7,7 pada 2026 memperlihatkan bahwa kawasan tersebut berulang kali mengalami gempa dengan karakter dan sumber yang berbeda.
Karena itu, gempa terbaru bukan hanya menjadi catatan baru dalam sejarah kebencanaan Flores. Peristiwa ini sekaligus mengingatkan masyarakat agar memahami risiko gempa dan tsunami, mengikuti informasi resmi BMKG, serta tidak mengabaikan peringatan dini ketika bencana terjadi.
Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
