Jepretnews.com – Kepahiang digegerkan aksi “Stiker Sakti” Dinsos, perburuan keluarga penerima bantuan sosial tepat Sasaran. Aksi tegas nan dramatis Dinas Sosial (Dinsos) Kepahiang kembali mencuri perhatian publik pada Jumat, 5 Desember 2025.
Di bawah komando langsung Kepala Dinas, H. Helmi Johan, tim Dinsos melancarkan operasi penempelan stiker “Keluarga Penerima Manfaat (KPM)” di rumah-rumah penerima bantuan sosial (Bansos).
Langkah ini bertujuan memastikan transparansi dan akuntabilitas penyaluran Bansos, sekaligus mendorong kesadaran diri bagi KPM yang sesungguhnya sudah mampu.
Teranyar, fokus utama tim tertuju pada Desa Kampung Bogor, Kecamatan Kepahiang. Mereka bergerak cepat didampingi perangkat desa setempat, serta para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Tentu saja, kehadiran rombongan ini segera menarik perhatian warga sekitar. Mereka menyaksikan langsung bagaimana Dinsos mengecek kondisi riil para penerima bantuan.
Dalam perjalanan peninjauan, tim Dinsos menemukan satu kasus yang menarik perhatian. Saat mendatangi kediaman seorang penerima Bansos, sang ibu yang namanya terdaftar ternyata tidak berada di Kepahiang.
Bahkan, informasi di lapangan menyebutkan bahwa ibu tersebut telah tinggal di Bengkulu. Namun demikian, saat tim memasuki pekarangan rumah, mereka bertemu dengan anak dari penerima Bansos yang tinggal di sana.
Momen ini menjadi titik puncak ketegasan Dinsos. Tanpa ragu, Helmi Johan menyampaikan ultimatum yang lugas dan tegas kepada anak KPM tersebut.
“Kalau kamu ingin mundur, kami tidak memasang stiker ini. Tapi, kalau kamu memilih untuk tetap menerima, maka stiker ini kami tempel!” Tegasnya, nada bicara Helmi menggambarkan keseriusan Pemkab Kepahiang dalam menertibkan penerima Bansos yang tidak tepat sasaran.
Sungguh di luar dugaan, seruan Helmi Johan tersebut dijawab dengan respon yang mengejutkan. Anak dari penerima Bansos itu segera menyambut tantangan tersebut dan menyatakan bahwa keluarganya memilih untuk mengundurkan diri dari daftar penerima bantuan!
Pilihan heroik ini terkuak saat ia disinggung mengenai alasan pengunduran diri secara sukarela. Dengan mantap, ia mengungkapkan alasannya.
“Mungkin ada yang lebih layak menerima. Mungkin kami sudah merasa mampu.” Pernyataan jujur tersebut menggetarkan hati tim Dinsos dan perangkat desa yang hadir.
Oleh karena itu, keputusan berani ini menunjukkan kesadaran sosial yang tinggi dari keluarga tersebut. Lebih lanjut, kejadian di Kampung Bogor ini diharapkan menjadi contoh positif bagi KPM lain yang secara ekonomi sudah membaik.
Stikerisasi ini terbukti bukan hanya sebagai penanda, melainkan juga sebagai katalisator integritas sosial. Tim Dinsos Kepahiang berjanji akan terus melanjutkan aksi stikerisasi ini guna memastikan bahwa setiap rupiah Bansos jatuh ke tangan yang benar-benar membutuhkan.
Jangan sampai ketinggalan! Segera ikuti grup Facebook Jepretnews untuk informasi terkini dan kisah-kisah inspiratif lainnya!
