Jepretnews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi solusi pemenuhan gizi anak sekolah kini menghadapi ujian serius di Kabupaten Kepahiang.
Setelah belasan siswa, guru, hingga penjaga sekolah mengalami gejala yang mengarah pada indikasi keracunan makanan, penyaluran MBG di SD Negeri 18 Kepahiang resmi dihentikan sementara.
Keputusan penghentian tersebut muncul setelah sebanyak 16 orang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG yang dibagikan pada Kamis (4/6/2026).
Peristiwa ini langsung menyita perhatian publik karena melibatkan program nasional yang menyasar kalangan pelajar.
Kepala SD Negeri 18 Kepahiang, Pipi Junita, membenarkan bahwa distribusi makanan dari program MBG untuk sementara tidak akan dilakukan. Informasi itu diterima pihak sekolah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pihak yang menyalurkan makanan.
Menurut Pipi, seluruh korban yang sebelumnya mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang kini telah diperbolehkan pulang untuk menjalani pemulihan.
“Anak-anak yang tadi ditangani perawatan medisnya sudah berangsur pulih, sementara untuk ke depannya penyaluran MBG distop sementara sampai SPPG mendapatkan izin kembali dari BGN,” jelas Pipi, Kamis (4/6/2026).
Meski kondisi para korban mulai membaik, penghentian sementara tetap dilakukan sebagai langkah antisipasi sambil menunggu evaluasi lebih lanjut dari pihak terkait.
Berdasarkan data yang dihimpun, mayoritas korban mengeluhkan gejala yang hampir serupa. Mereka mengalami gatal-gatal, pusing, mual, muntah, hingga sesak napas setelah mengonsumsi makanan yang terdiri dari perkedel, nasi, sambal telur, tumis kol, dan buah salak.
Beberapa siswa bahkan mengalami reaksi beberapa jam setelah makan. Kondisi tersebut membuat pihak sekolah segera berkoordinasi dengan tenaga kesehatan untuk memberikan penanganan cepat.
Di sisi lain, pihak sekolah memastikan akan terus memantau perkembangan kesehatan seluruh peserta didik yang terdampak.
“Kami akan memastikan kondisi peserta didik berangsur pulih setelah mendapatkan perawatan,” ujar Pipi.
Peristiwa ini terjadi tepat pada hari terakhir pelaksanaan ujian di SDN 18 Kepahiang. Karena itu, siswa tidak langsung kembali menjalani aktivitas belajar mengajar dan memiliki waktu untuk beristirahat selama masa jeda kegiatan sekolah.
Meski demikian, kejadian ini tetap menjadi perhatian serius. Publik kini menunggu hasil evaluasi dan penelusuran lebih lanjut terkait penyebab munculnya gejala yang dialami para korban.
Dari total 16 korban, sebagian besar merupakan siswa sekolah dasar. Mereka melaporkan berbagai gejala mulai dari gatal-gatal, mual, muntah, pusing, hingga sesak napas setelah menyantap menu MBG.
Korban antara lain Olif Aprianta, Firza, Haura, Keyla, Zahwa, Lala, Refa, Sasuke, Fikri, Nova, Bilqis, Laras, Musiana, Sandi Praja, Rafi Rizki Ramadan, dan Fazril Adiwangsa.
Beberapa korban mengaku mengalami keluhan setelah mengonsumsi perkedel dan sambal telur, sementara korban lainnya merasakan gejala setelah menyantap sayuran maupun nasi yang tersedia dalam paket makanan tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab pasti munculnya gejala yang dialami para korban. Namun, penyaluran MBG Kepahiang dipastikan dihentikan sementara sampai proses evaluasi selesai dan pihak penyalur memperoleh izin untuk kembali menjalankan program.
Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
