Jepretnews.com – Musim kemarau mulai menunjukkan ancamannya di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu. Dalam sepekan terakhir, petugas pemadam kebakaran harus menghadapi sejumlah titik kebakaran yang muncul hampir bersamaan.
Namun, di tengah situasi yang menuntut respons cepat, keterbatasan armada membuat petugas harus menentukan titik mana yang lebih dulu mereka tangani.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran lahan maupun permukiman dapat berkembang cepat ketika cuaca panas dan kondisi lingkungan kering. Petugas pun harus berpacu dengan waktu agar api tidak meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Kasatpol PP dan Damkar Kabupaten Kepahiang, Dedi Sukrizal, ST, mengungkapkan bahwa intensitas kebakaran meningkat dalam sepekan terakhir.
Dedi menjelaskan, petugas menerima laporan hingga lima titik kebakaran dalam sepekan. Dari jumlah tersebut, petugas menangani empat titik, sementara kondisi di lapangan memaksa mereka mengatur prioritas berdasarkan lokasi dan tingkat ancaman.
“Untuk intensitas kemarau ini, apalagi di satu minggu terakhir ini, ada lima titik, tapi yang ditangani empat, di Talang Pito, Pagar Agung, Kelilik, dan Muara Langkap. Yang terakhir rumah,” kata Dedi Sukrizal kepada redaksi Jepretnews.com, Senin (24/8/2026).
Menurut Dedi, kejadian tersebut tidak hanya menyasar lahan perkebunan. Kebakaran juga terjadi pada bangunan rumah sehingga membutuhkan respons yang lebih cepat karena menyangkut keselamatan warga dan aset masyarakat.
Di balik upaya petugas memadamkan api, Dedi mengungkapkan satu persoalan serius, yakni keterbatasan sarana dan prasarana pemadam kebakaran.
Saat ini, Damkar Kabupaten Kepahiang hanya mengandalkan satu mobil yang dapat beroperasi. Kondisi tersebut menjadi kendala ketika beberapa titik kebakaran muncul dalam waktu berdekatan dan berada di lokasi berbeda.
Dedi menegaskan, keterbatasan armada membuat petugas tidak bisa langsung mendatangi seluruh lokasi secara bersamaan.
“Seperti kemarin terjadi kebakaran lahan, di Kelilik, sama di Talang Pito. Hanya kita pergi yang di Kelilik karena dekat. Itu salah satu kendala, keterbatasan mobil,” ujarnya.
Situasi itu menunjukkan bahwa peningkatan kejadian kebakaran pada musim kemarau tidak hanya menuntut kesiapan personel. Pemerintah daerah juga membutuhkan dukungan sarana pemadaman yang memadai agar petugas dapat bergerak lebih cepat ketika laporan masuk secara bersamaan.
Dedi menambahkan, jumlah kebakaran yang terjadi sebelum sepekan terakhir bahkan tercatat lebih banyak. Artinya, peningkatan kejadian dalam beberapa hari terakhir bukan menjadi satu-satunya perhatian Damkar Kepahiang.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Aktivitas yang dapat memicu api, terutama di sekitar lahan kering dan perkebunan, harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Dengan kondisi satu armada yang beroperasi, kecepatan laporan dari masyarakat juga menjadi sangat penting. Semakin cepat warga melaporkan kemunculan api, semakin besar peluang petugas mengendalikan kebakaran sebelum api meluas.
Kini, ancaman kebakaran masih menjadi pekerjaan rumah serius di tengah musim kemarau. Ketika titik api muncul hampir bersamaan, keterbatasan armada bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menjadi tantangan besar bagi kecepatan penanganan kebakaran di Kabupaten Kepahiang.
Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
