Jepretnews.com – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Israel dan Iran melakukan serangan militer baru satu sama lain pada Sabtu (14/6/2025) malam waktu setempat. Konflik ini memicu kekhawatiran global akan kemungkinan pecahnya perang regional berskala luas.
Dilansir dari cnbcindonesia.com Israel memperluas serangannya dengan menghantam fasilitas energi terbesar Iran di ladang gas South Pars. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa serangan yang telah terjadi “belum seberapa dibandingkan dengan apa yang akan Iran hadapi dalam beberapa hari ke depan.”
Militer Israel mengonfirmasi bahwa lebih banyak rudal diluncurkan dari Iran ke wilayah Israel pada Sabtu malam. Televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Iran telah meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel.
Konflik ini telah menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Pemerintah Iran mengungkap bahwa pada hari pertama serangan Israel, sebanyak 78 orang tewas. Pada hari kedua, jumlah korban bertambah, termasuk 60 orang tewas ketika sebuah rudal menghancurkan apartemen 14 lantai di Teheran.
Netanyahu menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan rezim ulama yang berkuasa. “Operasi ini akan berlangsung selama beberapa minggu. Kami tidak akan berhenti sampai ancaman terhadap Israel dihapuskan,” kata Netanyahu.
Organisasi HAM Israel terkemuka, B’Tselem, mengkritik langkah pemerintah Israel. “Alih-alih menempuh semua jalur diplomatik, pemerintah memilih perang yang mempertaruhkan nyawa seluruh kawasan,” tegas organisasi tersebut dalam pernyataannya.
Konflik ini juga memicu kekhawatiran tentang kemungkinan pecahnya perang regional berskala luas. Teheran memperingatkan bahwa negara-negara sekutu Israel juga akan menjadi sasaran jika mereka ikut campur atau membantu mencegat rudal Iran.
