Jepretnews.com – Fenomena yang melibatkan karyawan Indomaret di Kota Batu, Ranau, belakangan menyita perhatian publik. Di tengah sorotan tersebut, muncul pengakuan seorang mantan karyawan Indomaret yang mengungkap pengalaman selama bekerja, mulai dari menghadapi pencurian barang hingga menanggung kerugian toko yang nilainya mencapai jutaan rupiah.
Bagus Rahmat Muklas Saputra (25), mantan karyawan Indomaret yang pernah bertugas di sejumlah toko di Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Bengkulu Tengah, mengungkapkan pengalaman yang menurutnya menjadi salah satu pertimbangan untuk mengakhiri masa kerjanya.
Rahmat mengaku bekerja di Indomaret selama kurang lebih tiga tahun, terhitung sejak akhir 2020 hingga akhir 2023. Selama periode tersebut, ia mengawali karier sebagai pramuniaga, kemudian naik jabatan menjadi MD hingga akhirnya dipercaya sebagai asisten kepala toko.
“Saya bekerja di Indomart terhitung tiga tahun, sejak akhir 2020 sampai akhir 2023. Dari pertama kita masuk jadi pramu, terus naik ke MD dan naik ke asisten kepala toko,” ucap Rahmat.
Namun, di balik perjalanan karier tersebut, Rahmat mengaku menghadapi persoalan yang menurutnya cukup membebani karyawan, terutama ketika toko mengalami kehilangan barang.
Sebagai karyawan yang berdomisili di Kabupaten Kepahiang, Rahmat mengaku pernah menjalankan tugas di empat toko Indomaret yang tersebar di dua kabupaten. Tiga toko berada di Kabupaten Kepahiang, sedangkan satu toko lainnya berlokasi di Kabupaten Bengkulu Tengah.
Selama menjalankan tugas di sejumlah toko tersebut, Rahmat mengaku beberapa kali menghadapi kasus pencurian yang melibatkan kelompok atau sindikat. Menurut pengalamannya, aksi pencurian tersebut terjadi berulang kali dan menjadi salah satu tantangan selama ia bekerja.
“Mungkin di setiap toko selalu ada yang namanya sindikat pencurian. Seingat saya di Kabupaten Kepahiang ada satu sampai dua kali, di Kabupaten Benteng tiga sampai empat kali yang saya tangkap,” ungkap Rahmat.
Pengakuan tersebut menggambarkan tantangan yang pernah ia hadapi ketika menjalankan tugas di toko. Akan tetapi, menurut Rahmat, persoalan yang paling membekas bukan hanya aksi pencurian, melainkan mekanisme penggantian kerugian ketika toko mengalami kehilangan barang.
Rahmat mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalamannya, kerugian akibat kehilangan barang di toko turut menjadi beban yang harus ditanggung karyawan yang bertugas di lokasi tersebut.
Ia menyebut perusahaan memberikan bantuan dalam mekanisme penggantian kerugian. Meski demikian, menurutnya, karyawan tetap merasakan beban finansial dari kehilangan barang tersebut.
“Betul, mekanisme kerugian memang ditanggung oleh karyawan yang bekerja di toko tersebut. Ada bantuan dari pihak Indomaretnya, tapi tetap lebih terasa bagi karyawan yang bekerja,” jelas Rahmat.
Lebih lanjut, Rahmat menyebut nilai kerugian barang hilang dalam satu toko setiap bulan cukup bervariasi. Berdasarkan pengalamannya, nominal kerugian tersebut berkisar antara Rp5 juta hingga Rp12 juta per bulan, bergantung pada hasil audit dan kondisi masing-masing toko.
Angka tersebut menjadi salah satu hal yang ia soroti ketika menceritakan pengalamannya selama bekerja di jaringan ritel tersebut. Persoalan penggantian kerugian barang hilang, menurut Rahmat, tidak berhenti pada perhitungan kerugian toko.
Ia mengaku pernah mengalami pemotongan gaji untuk mengganti kerugian tersebut. Bahkan, nominal yang ia sebutkan mencapai jutaan rupiah dalam satu bulan.
“Yang saya sendiri pernah ganti dari gaji saya rata-rata antara Rp300 ribu sampai Rp 3 juta sebulan. Audit itu sekitar 85 persen,” kata Rahmat.
Tak hanya melalui pemotongan gaji, Rahmat juga mengaku pernah menggunakan uang pribadinya untuk menutupi kerugian akibat barang yang dinyatakan hilang. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi salah satu pertimbangan penting ketika ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya.
“Bahkan saya pernah menggunakan uang pribadi untuk membayar kerugian barang hilang,” ujar Rahmat.
Fenomena yang belakangan viral tersebut, menurut Rahmat, kembali membuka perhatian masyarakat terhadap persoalan keamanan toko, aksi pencurian, serta mekanisme penggantian kerugian yang dirasakan karyawan.
Ia menilai pengalaman yang pernah dialaminya menjadi bagian dari alasan untuk mengakhiri masa kerjanya di Indomaret. Meski demikian, pengakuan Rahmat merupakan pengalaman pribadi selama bekerja di sejumlah toko.
Mekanisme penggantian kerugian, kebijakan perusahaan, serta penerapannya di masing-masing toko masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait.
“Hal tersebutlah yang juga menjadi salah satu alasan saya resign atau mundur dari pekerjaan saya di Indomart,” pungkas Rahmat.
Pengakuan mantan karyawan ini pun menambah perspektif dalam perbincangan mengenai perlindungan karyawan, keamanan toko, serta tanggung jawab atas kehilangan barang di sektor ritel.
Ikuti terus Jepretnews.com untuk update berita viral, tajam, dan terpercaya, berimbang berbasis fakta. Ikuti kanal resmi Jepretnews Official untuk pembaruan informasi terkini.
